Sandiwara Cinta
Judul Cerpen Sandiwara Cinta
Cerpen Karangan:
Ahmad Azwar Avisin AlhaidarKategori:
Cerpen Cinta,
Cerpen Inspiratif,
Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 27 October 2012
“Sudahlah, bunuh saja aku sekarang, daripada aku harus membunuh
diriku sendiri dan aku berdosa. Sudah bunuh saja aku, aku tak lagi
berarti dalam hidupmu!” pekik Anne membahana.
“Jangan sampai tanganku terkotori darahmu. Aku tak ingin sampai kamu
harus mati di tanganku, sadarkah kamu, sampai sekarang aku tetap
mencintaimu, dirimu tetap di hatiku meski kita tak lagi bersama!!.”
Balas Randi dengan suara menggelegar.
“Tapi, aku tak lagi ingin lebih lama menderita hidup dengan dia, lebih – lebih tanpamu.”
“Tak usah kau hiraukan aku, kalau kau mau pergi silahkan pergi saja. Aku tak mengapa.”
“Coba pahami aku!! akupun sama, tak ingin semua ini terjadi.”
“Sudahlah, kita terima takdir ini! aku akan pergi.”
Keduanya menjauh, akhir yang tragis, cinta mereka tak bersatu. Namun
walau begitu tepuk tangan penonton membahana dan riuh, Aku puas dengan
akting mereka berdua, mereka aktor dan aktris yang aku pilih sendiri,
aku cari sendiri. Aku latih sendiri. Aku ajari mereka bagaimana akting
natural, meski aku lihat akting mereka masih jauh dari kata natural,
tapi aku kagum dengan kecepatan mereka menghapalkan dialog yang
bahasanya bukan bahasa mereka gunakan sehari – hari.
Kenalkan namaku Fikri, aku adalah seorang mahasiswa semester akhir yang
masih enggan mengakhiri masa studiku dan lebih asik mengajarkan ilmu
yang aku pelajari secara otodidak ini. aku sangat menyukai dunia akting,
dunia seni peran, dunia sandiwara. Di dunia itu aku juga mempelajari
banyak hal lain seperti tata lampu, tata suara, tata musik, penulisan
skenario, dan lain – lain.
Aku seperti seseorang yang sengaja menghindari dunia nyataku, aku
seperti lari dari kenyataan hidupku. Aku seperti kehilangan dunia
nyataku sehingga harus berlarian mencari dunia lain yang bisa aku buat
bersandar. Dunia ini adalah panggung sandiwara, makanya aku sama sekali
tak merasa berlari ke dunia lain, aku tetap pada duniaku, dunia yang
lebih sandiwara.
“Mas Fik, gimana aktingku?” tanya Anne mengagetkanku.
“Baik.” Jawabku pelan.
“Lempeng banget responnya, kesel deh.”
“Terus mas harus bilang apa? wow gitu?”
Dia tergelak, manis. Aku tak ingin menatapnya lekat, karena dengan
menatapnya berarti aku harus mengingat dia lagi, kakak kandungnya yang
telah tiada. Kakak kandungnya yang harusnya kini mungkin sudah sama –
sama mencari pekerjaan di bank atau kantor – kantor keuangan dengan dia,
karena kita janji akan lulus bareng. Tapi?
“Aku nggak suka ama aktingnya Randi, datar banget.” Ucapnya sambil memanyunkan bibirnya.
“Kenapa bilang gitu?”
“Masak mas nggak bisa lihat, sih? Dari tadi itu matanya dia nggak ke aku, entah kemana.”
“Tapi aku salut sama kalian berdua yang sudah bisa membuat pementasan kali ini sangat seru dan semarak, terima kasih ya.”
“Mas Fikri ingat Mbak Nani ya?”
Aku mengangguk pelan, dia seperti merasakan apa yang aku rasakan. Dia
terpekur, airmatanya menggantung di pelupuk matanya. Aku tahu kita semua
kehilangan Nani, kenapa semua harus terjadi. Kenapa?
“Mbak Nani mungkin sudah bahagia di alam sana. tapi Mbak Nani juga
bakalan sedih lihat Mas Fikri terus – terusan lari dari masalah gini?
Ayo, mas. coba sedikit sadar! Dunia tak selebar daun kelor. Kamu harus
berani menghadapi kenyataan kalau mbak Nani meninggal dan nggak akan
balik lagi.”
“Tapi aku merasakan Nani masih setia menemaniku.”
“Cinta mbak Nani buat Mas Fikri itu palsu, dia nggak cinta sama kakak. Kenapa kakak nggak bisa ngelupain dia?”
“Aku terlalu cinta pada dia.”
“Susah ngomong sama mas Fikri ini!” bentaknya seraya pergi meninggalkanku.
“Di saat lelah gini emang paling enak ya bersandar di bahumu, Fik.”
“Nani, kamu harus tahu, kita nggak bisa terus – terusan begini. Kamu bukan pacarku.”
“So why?”
“Kamu nggak mikirin perasaanku, perasaan Toni juga? Kita sahabatan, Nan.
Aku nggak ingin buat hatinya kecewa karena kedekatan kita.”
“Kan dia lebih beruntung dari kamu, lagian aku juga sejenak doang bersandar di bahumu.”
“Kamu juga nyakitin aku, Nan. Kamu seperti ngasih aku harapan palsu.”
“Kenapa kamu masih ragu tentang cintaku sih?”
“Jelas, kamu tak pernah menunjukkan niat baik dan sepertinya ingin membuat masalah antara aku dan Fathoni.”
“Kita harusnya menikmati momen ini tanpa harus menyebut namanya. Kamu
harusnya banyak – banyak doa saja semoga cinta kita bisa kekal abadi,
kita bisa bersatu walau kita tak ada ikatan.”
“Sampai kapan? Kau bagi cintaku dan cintanya?”
“Aku tak tahu, Fikri. Mungkin sampai aku mati.”
“Toni! Ton! Dengerin dulu! semua ini nggak seperti yang kamu lihat,
diantara kita. . . .” Toni menonjokku keras, aku terpelanting jauh. aku
tak lagi dapat melihat apa yang diperbincangkannya dengan Nani, hanya
sayup – sayup terdengar.
“Kenapa kalian tega menghianati gue? Apa salah gue sama kalian? Selama
ini kalian ternyata menipu gue? Jelas gue nggak bisa terima yang kayak
gini! Gue doain siapapun diantara kalian bakalan kualat sama gue, karena
udah nipu gue, nusuk gue dari belakang!” hardik Fathoni beberapa waktu
lalu.
Kata – kata itu masih menari – nari di ingatanku. Hingga hari ini aku
tak habis pikir, kita kena tulah dari perbuatan terlarang itu. aku harus
kehilangan semangat buat hidup sedangkan Nani kehilangan hidup. Cinta
terlarang yang kita sebar benihnya harus layu sebelum akhirnya mekar.
Hati ini perih terasa, kehilangan sahabat kehilangan cinta.
Seharusnya aku tak tergoda dengan rayuan Nani. Harusnya aku menjaga
keutuhan persahabatan diatas segala – galanya. Harusnya, tapi kini nasi
sudah menjadi bubur bahkan menjadi aking. Tak lagi ada yang dapat
diperbaiki. Fathoni sudah jauh lebih sukses dan beruntung dibandingkan
aku, dia juga kabarnya sudah bertunangan dengan pemenang kontes
kecantikan tahun lalu yang tak lain adalah putri pemilik sebuah bank
nasional yang cantik dan cerdasnya tak perlu diragukan lagi?
Aku bandingkan dengan hidupku? Jauh. dapat kerja yang pas saja belum.
Apalagi dapat pacar baru yang luar dalam sempurna seperti yang
didapatkan Fathoni? aku menyesali perbuatanku itu. perbuatan yang salah
dan terkutuk itu.
“Mas Fikri, siapa yang pantas aku pilih. Persahabatanku atau cintaku.” Tegur Anne.
“Sahabat.” Jawabku pasti.
“Why?”
“Nggak ada alasan. Jangan sampai kamu melukai sahabatmu, meski cinta terlihat lebih menguatkanmu.”
“Aku tahu bagaimana perasaannya, tapi aku tahu juga, kalau Lina amat sangat mencintainya.”
“Siapa? Randi?”
Dia mengangguk. Wajahnya mendadak masam.
“Kamu cinta sama dia?”
“Gimana ya?”
“Kalau kamu cinta, bandingkan lebih kuat mana cinta Randi, padamu atau pada Lina.”
Aku menatap erat wajah Anne. Sangat mirip dengan Nani, senyumnya,
barisan gigi rapatnya, dan juga sepasang mata bola yang membuat setiap
lelaki memimpikan mata itu, mata itu teduh dan laksana bidadari.
“Randi terlalu susah ditebak. Bikin galau aja.”
“Nggak usah main hati deh, biasa aja.”
“Tapi hatiku kian nggak bergetar kalau di dekatnya. Justru . . . .”
“Justru kenapa?”
Dia menggeleng. Sepertinya ada sesuatu yang menyerang otaknya sehingga
dia mengurungkan ucapannya dan memilih untuk berlari meninggalkanku
seorang diri. Aku lihat dari jauh mukanya memerah.
Setengah mati aku merasakan penyesalan yang mendalam, setelah itu aku
seperti jera. Tak lagi ingin bersahabat, tak lagi ingin menjalin cinta.
Karena semua itu palsu. Ketika dihadapkan pada kepentingan pribadi
masing – masing. Dalam kasus ini akulah pecundangnya, meski di awal
terlihat akulah pemenangnya. Oh!
Sungguh mati, aku tak lagi ingin lebih lama hidup disini. Ingin aku
turut ke dunia dimana Nani kini tenang. Tapi aku masih mau buat hidup
dan memperjuangkan harapanku yang belum terwujud.
“Fikri, aku mencintai kamu. Meski di saat ini kita tak mungkin bersama.”
Akupun sama, Nani. Aku mencintaimu lebih dari siapapun, aku mengharapkan
kalau kita akhirnya berakhir bahagia. Tak ada kompetisi. Tak ada kalah
menang. Tak ada yang disakiti atau merasa menyakiti. Harusnya.
“Pokoknya bapak nggak mau tahu! Kamu harus sudah wisuda semester
depan! Bapak ini malu, nak. Tiap hari ditanyain tetangga – tetangga soal
nasib kuliah kamu.!”
“Bapak ngerti nggak sih, aku lagi galau.”
“Galau itu sehari dua hari, lagian ngapain sih kamu pakai ikutan kayak
gitu? Kamu itu lelaki, patah satu tumbuh seribu. Malah bisa tumbuh
sepuluh ribu. Perasaan bapak dulu mudanya juga nggak gitu – gitu amat.”
“Nggak semudah itu, Pak. Aku udah membunuh persahabatanku sendiri, aku
juga udah bikin semuanya makin runyam dengan kematian . . .”
“Semua udah terjadi kan? Emangnya kamu bisa bikin semuanya kembali balik
lagi? Lihat, ibu kamu udah sakit – sakitan terus. Dia nggak ingin apa –
apa. dia ingin lihat kamu segera lulus kuliah, gitu aja!” ujar bapakku
sambil memegang – megang jenggotnya.
“Sekarang aku harus gimana?”
“Kamu harus minta maaf sama Fathoni. dimanapun dia sekarang, temui dia!”
Aku terngaga, darimana bapak yang biasanya cuek dengan hidupku bisa tahu
aku ada masalah besar dengan Fathoni. akupun akhirnya seperti
mendapatkan ilham, Cuma dengan cara itu semua akan menjadi baik.
“Ayo kita taruhan, apa Fathoni bakalan maafin Fikri?”
“Nggak mungkin, lah. Jelas – jelas kesalahan Fikri udah parah banget, ngerebut pacar Fathoni, nusuk Fathoni dari belakang, huh!”
“Sahabat macam apa kayak gitu?”
“Tega ya.”
“Aku pegang, yang lain. Thoni bakalan maafin Fikri, aku yakin di hatinya
masih ada hati nurani, ini kisah nyata. Bukan sandiwara. Dalam salah
masih ada maaf.”
“Sok banget kamu.”
Sayup – sayup aku dengarkan suara kegusaran mereka. dulu aku juga
tertantang oleh tawaran taruhan mereka yang hadiahnya sangat
menggiurkan. Tapi? tapi kalau akhirnya begini lebih baik dari awal aku
tak menghiraukan mereka. masak sahabatnya sendiri jadi taruhan? Dan aku,
aku lebih tega lagi. Sahabat sendiri dihianati. Meski awalnya tak ada
maksud.
“Gimana nih pementasan kita selanjutnya? Masih masang aku sama Randi, kan?”
“Nggak.”
“Ayolah, please.”
“Yang mana namanya Lina?”
“Mas Fikri belum tahu? Lina meninggal dunia, mas. dia overdosis setelah tahu kalau Randi nggak suka sama dia.”
Aku makin terbelalak. Ini sandiwara apa nyata? Ini nggak mungkin. Ada apa sebenarnya?
“Kasihan ya dia?”
“Lebih kasihan lagi aku, ternyata dia selama ini udah menjalin hubungan
dengan Yoan, mantanku. Mereka berhubungan sejak aku masih jadi pacar
Yoan. Aku nggak nyangka aja. Ternyata hidup hanya soal menipu dan
ditipu, menusuk atau ditusuk. Aku sedih. Aku nggak bisa berpikir.”
“Darimana kamu tahu?”
“Kemarin Yoan meminta maaf sama aku dan memintakan maaf almarhumah Lina.”
“Sekarang kamu sedih atau bahagia.”
“Jelas aku sedih. Aku nggak bisa mikir lagi. Aku emang udah nggak ada
lagi ikatan ama Yoan, dan rasa cintaku juga udah nggak ada, tapi yang
aku sesalkan kenapa justru yang menyakitiku adalah sahabat dan pacarku
sendiri.”
“Pacar?”
“Kan dulu statusnya pacarku.”
“Kalau Yoan minta maaf ama kamu dan minta balikan ama kamu, kira – kira kamu kasih kesempatan kedua nggak?”
“Maaf oke, balikan nggak.”
Anne menunjukkanku kira – kira apa yang akan aku hadapi jika melakukan hal yang sama dengan Fathoni.
“Semoga kamu mau maafin kesalahanku, Thoni.” Ujarku sambil berlutut pada Fathoni.
“Udah nggak ada yang perlu dimaafin, bahagialah kalian berdua, dengan Nani. Aku ikhlas.” Jawabnya sambil mengangkat pundakku.
“Kamu nggak dendam ama kita?”
Dia menggeleng, dia merangkulku. Tak terasa airmataku jatuh. Aku tak
percaya aku dapat menangis di pelukannya saat ini, dan anehnya aku
rasakan Fathoni juga meneteskan airmata. Aku rasakan tunangan Fathoni
masuk ke dalam ruangan ini. wajahnya menyiratkan kekagetan.
“Mungkin gue juga salah. Gue asal nuduh aja. Sejak itu gue nggak bisa
memaafkan diri gue sendiri yang udah berkata – kata kasar ama kalian
berdua. maafin gue juga, Fikri. Eh, kenalin ini tunangan gue. Dulu
mantan gue sih, kita CLBK. Namanya Afif. Cantik nggak?”
“Lho, ganti lagi? Bukan yang mantan putri itu?”
“Yang mantan putri itu lebih fokus ama kariernya. Aku lebih milih dia,
yang ini lebih asli cintanya. Nggak terlihat palsu.” Jelas Fathoni
dengan bangga.
Aku lihat dia tersenyum, terlihat cantik dan makin sedap dengan tailalat atau andeng – andeng di bawah bibirnya.
Aku masih tak percaya, ternyata bapakku tahu lagi info perdamaianku
dengan Fathoni. aku tak menyangka bapakku kini memutuskan semua urusan
pekerjaanku jadi guru teater di sekolah Anne. Dan aktivitas –
aktivitasku yang dirasa bapakku nggak penting. Sedangkan kini ibuku yang
sudah sehat, kembali rajin menjadi pengkhotbah ulung seperti ustadz di
mesjid – mesjid. Dan aku harus menebalkan kupingku lagi.
Dengan tidak lagi menjadi guru teater di sekolah Anne ekspektasi
orangtuaku adalah anaknya bakalan rajin belajar dan tidak mengulur –
ulur waktu mengurus skripsi. Tapi yang terjadi kini adalah, aku malah
dapat tawaran yang lebih menggiurkan dan lebih menantang. Menggarap
script film yang diadaptasi dari sebuah novel karangan seorang pengarang
hebat bernama Nissi Fapriyadi yang berjudul Sahabatku Sampai Hati. aku
sangat senang sekali dengan tawaran pekerjaan berskala besar ini. ini
harus aku manfaatkan dengan sebaik – baiknya agar kelak ada tawaran lain
lagi yang lebih besar.
“Gimana? Udah sampai mana?” tanyanya sambil mengangkat cangkir berisi kopi capuccino-nya.
“Udah sampai draft dua sih. Saat muncul benih – benih cinta antara Rima dan Ricky.”
“Wow! Cepat sekali kerja kamu, Fikri?”
“Agak sedikit curcol juga sih?”
Dia meringis. Aku lihat senyum itu menghakimiku sebagai tokoh yang
bersalah. Sepertinya dia merasa senang dengan kecepatan kerjaku, meski
aku juga belum tahu apa dia bakalan suka dengan hasilnya.
“Kira – kira kamu mau nggak jadi salah satu pemain di film itu? itung –
itung nambah pemasukan kamu dan pak produser hemat biaya casting.”
Aku menggeleng pelan. Cukup di kisah nyataku aku melakukan pengkhianatan
terhadap sehabatku sendiri, tak lagi kuulangi di dunia sandiwara. Aku
lihat mukanya mendengus kesal karena penolakanku.
“Kamu pantas jadi Ricky, mengapa nggak?”
“Misalnya aku jadi Ricky, yang jadi Rima siapa?”
“Kalau sejak masa penulisan dulu sih, bayangan Rima ya sahabatku.
Sahabatku yang nasibnya juga mirip Rima. Harus jadi gila, cuman dia
akhirnya mati gitu aja. Kasihan, tapi emang cinta kadang hanya bisa
menyakiti dan membuat pedih di hati aja.”
Aku diam saja, aku diam bukan tak tahu siapa yang dimaksudkan oleh
Nissi. Dia adalah sahabat Nani. Maka jelas dia sampai menuliskan kisah
Nani, aku, dan Fathoni. dalam sebuah novel yang menarik sehingga
produser ikutan tertarik dan berniat menjadikan sebuah film.
“Udahlah, Nis. Nggak usah dibahas lagi, aku udah coba untuk melupakan semua itu.”
“Aku paham, ini semua nggak mudah buat kamu jalani. Apalagi kamu yang
harus bertahan disini. Aku tahu, kamu mencintai dia meski akhirnya
harus. . . .”
“Udahlah, ayo kita bahas proyek ini aja. Nggak usah bahas yang lain.”
Terbayang di benakku, adalah wajah kedua orangtuaku yang marah berat
pada aku yang mengulur – ulur kelulusanku. Tapi aku makin mencoba
mempertebal kupingku dengan keyakinanku bakalan jadi penulis yang
sukses, terutama untuk proyek ini. proyek skenario pertamaku yang
berskala besar ini. terbayang juga wajah Nani, aku coba menepiskannya,
namun aku tak mampu, sungguh aku tak mampu. Dia terlalu kuat melekat.
Lalu, bayangan Fathoni yang hidupnya akhirnya bisa bahagia dengan
tunangannya yang bernama Afif itu.
“Walau aku harus kehilangan kamu sebagai guruku, aku nggak mau
kehilangan kamu sebagai cintaku, mas Fikri. Aku mencintai kamu, maukah
kamu menjadi pacarku? Maukah kamu mencintai aku yang sebenarnya telah
lama menaruh rasa sama kamu?”
“Kamu yakin kamu setia?”
“Aku tahu resikonya jika aku menanggalkan setiaku. Aku akan mati dan dia
akan pedih. Aku akan bernasib sama seperti Rima, Nani, dan semua
penghianat cinta di dunia ini.”
“Ciyuss ? Kamu siap?”
Dia mengangguk pelan. Hatinya seperti sedang kembang kempis tingkat atas.
“Ciyus, demi apapun.”
“Janji?”
“Janji, sekarang dan selamanya. Mau ya jadi pacarku, mas?”
Aku mengangguk. Aku tak lagi merasakan ada hambatan yang menganga
menghantui kisah kita. tapi aku tak tahu lagi sih? Siapa yang tahu ada
hati lain yang sedih dan kecewa karena akhirnya aku menautkan hatiku
pada adiknya Nani ini.
Aku merasakan degup jantungnya yang kini memelan. Aku rasakan pelukannya
juga, hangat dan menyenangkan. Selalu saja mengingatkanku pada
kakaknya, namun aku harus menghapusnya, walau sekali – kali tak bisa.
“Ini nyata, kan? Bukan sandiwara? Atau bahkan mimpi?”
Aku tersenyum padanya. Mungkin inilah takdir yang harus aku jalani, dengan dia, aku harap selamanya, dan bukan untuk sesaat.
Tamat
Cerita Sandiwara Cinta merupakan cerita pendek karangan
Ahmad Azwar Avisin Alhaidar, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.
"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"