Senin, 20 Maret 2017

novel cinta

Bagi teman - teman yang suka membaca novel tentang cinta, saya akan berikan satu cerita menarik kisah cinta yang romantis. Selamat membaca.

 “Sahabat selalu ada disaat kita membutuhkannya, menemani kita disaat kita kesepian, ikut tersenyum disaat kita bahagia, bahkan rela mengalah padahal hati kecilnya menangis…”
***
Bel istirahat akan berakhir berapa menit lagi. Nadia harus segera membawa buku tugas teman-temannya ke ruang guru sebelum bel berbunyi. Jabatan wakil ketua kelas membuatnya sibuk seperti ini. Gubrak…. Buku-buku yang dibawa Nadia jatuh semua. Orang yang menabrak entah lari kemana. Jangankan menolongnya, meminta maaf pun tidak.
“Sial! Lari nggak pakek mata apa ya...” gerutu Nadia. Dengan wajah masam ia mulai jongkok untuk merapikan buku-buku yang terjatuh. Belum selesai Nadia merapikan terdengar langkah kaki yang datang menghampirinya.

“Kasian banget. Bukunya jatuh semua ya?” cemooh seorang cowok dengan senyum sinis. Sejenak Nadia berhenti merapikan buku-buku, ia mencoba melihat orang yang berani mencemoohnya. Ternyata dia lagi. Cowok berpostur tinggi dengan rambut yang selalu berantakan. Sumpah! Nadia benci banget sama cowok ini. Seumur hidup Nadia nggak bakal bersikap baik sama cowok yang ada di depannya ini. Lalu Nadia mulai melanjutkan merapikan buku tanpa menjawab pertanyaan cowok tersebut.

Cowok tinggi itu sepintas mengernyitkan alisnya. Dan kembali ia tercenung karena cewek di depannya tidak menanggapi. Biasanya kalau Nadia terpancing dengan omongannya, perang mulut pun akan terjadi dan takkan selesai sebelum seseorang datang melerai.

Teeeett… Bel tanda berakhirnya jam istirahat terdengar nyaring
“Maksud hati pengen bantu temen gue yang jelek ini. Tapi apa daya udah keburu bel. Jadi sori nggak bisa bantu.” ucap cowok tersebut sambil menekan kata jelek di pertengahan kalimat.
Cowok tersebut masih menunggu reaksi cewek yang ada di depannya. Tapi yang ditunggu tidak membalas dengan cemoohan atau pun ejekan.

“Lo berubah.” gumam cowok tersebut lalu berbalik bersiap masuk ke kelasnya. Begitu cowok itu membalikkan badannya, Nadia yang sudah selesai membereskankan buku mulai memasang ancang-ancang. Dengan semangat 45 Nadia mulai mengayunkan kaki kanannya kearah kaki kiri cowok tersebut dengan keras.
“Aduuuuhh” pekik cowok tersebut sambil menggerang kesakitan.
“Makan tuh sakit!!” ejek Nadia sambil berlari membawa buku-buku yang tadi sempat berserakan. Bisa dibayangkan gimana sakitnya tuh kaki. Secara Nadia pakai kekuatan yang super duper keras. Senyum kemenangan menghiasi di wajah cewek tinggi berambut ikal tersebut.
***
“Nadia….”
Nadia menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata dari kejauhan Nesya teman baiknya sejak SMP sedang berlari kearahnya. Dengan santai Nadia membalikkan badannya berjalan mencari motor matic kesayangannya. Ia sendiri lupa dimana menaruh motornya. Nadia memang paling payah sama yang namanya mengingat sesuatu. Masih celingak-celinguk mencari motor, Nesya malah menjitak kepalanya dari belakang.
“Woe non, nggak denger teriakan gue ya? Temen macam apa yang nggak nyaut sapaan temennya sendiri.” ucap Amel dengan bibir monyong. Ciri khas sahabatnya tersebut kalo lagi ngambek.
“Sori deh Sya. Gue lagi bad mood, pengen cepet pulang.”

“Bad mood? Jelas-jelas loe tadi bikin gempar satu kelas. Udah nendang kaki cowok sampai tuh cowok permisi pulang, enggak minta maaf lagi.” jelas Nesya panjang lebar.
“Hah? Sampe segitunya? Kan gue cuma nendang kakinya, masak segitu parahnya?” Nadia benar-benar nggak nyangka. Masa sih keras banget? Tuh cowok ternyata bener-bener lembek, pikirnya dalam hati.
“Nendang sih nendang tapi lo pakek tendangan super duper. Kasian Reno lho.”
“Enak aja. Orang dia yang mulai duluan.” bantah Nadia membela diri.
Sejenak Nesya terdiam, lalu berlahan bibirnya tersenyum tipis. 


“Kenapa sih kalian berdua selalu berantem? Masalahnya masih yang itu? Itu kan SMP dulu banget. ” ujar Nesya polos, tanpa bermaksud mengingatkan kejadian yang lalu. “Lagi pula gue udah bisa nerima kalau Reno nggak suka sama gue.”
“Tau ah gelap!”
***
Bel pulang berbunyi nyaring bertanda jam pelajaran telah usai. Cuaca yang sedemikian panas tak menyurutkan niat para siswa SMA Harapan untuk bergegas pulang ke rumah. Nadia sendiri sudah membereskan buku-bukunya. Sedangkan Nesya masih berkutat pada buku catatanya lalu sesekali menoleh ke papan tulis.

“Makanya kalau nulis jangan kayak siput” Dengan gemas Nadia mencubit pipi Nesya. “Duluan ya, Sya. Disuruh nyokap pulang cepet nih!” Nesya hanya mendengus lalu kembali sibuk dengan catatanya.
Saat Nadia membuka pintu kelas, seseorang ternyata juga membuka pintu kelasnya dari luar.
“Eh, sori..” ucap Nadia kikuk. Tapi begitu sadar siapa orang yang ada di depannya, Nadia langsung ngasih tampang jutek kepada orang itu

“Ngapain loe kesini?! Masih sakit kakinya? Apa cuma dilebih-lebihin biar kemarin pulang cepet? Hah?! Jadi cowok kok banci baget!!!” Kesal Nadia.
Jujur Reno udah bosen kayak gini terus sama Nadia. Dia pengen hubungannya dengan Nadia bisa kembali seperti dulu.
“Nggak usah cari gara-gara deh. Gue cuma mau cari Nesya.” ucap Reno dingin sambil celingak celinguk mencari Nesya. “Hey Sya!” ucap Reno riang begitu orang yang dicarinya nongol.
“Hey juga. Jadi nih sekarang?” Nesya sejenak melirik Nadia. Lalu dilihatnya Reno mengangguk bertanda mengiyakan. “Nad, kita duluan ya,” ujar Nesya singkat.

Nadia hanya bengong lalu dengan cepat mengangguk. Dipandangi Nesya dan Reno yang kian jauh. Entah kenapa, perasaanya jadi aneh setiap melihat mereka bersama. Seperti ada yang sakit di suatu organ tubuhnya. Biasanya Reno selalu mencari masalah dengannya. Namun kini berbeda. Reno tidak menggodanya dengan cemoohan atau ejekan khasnya. Reno juga tidak menatapnya saat ia bicara. Seperti ada yang hilang. Seperti ada yang pergi dari dirinya.

***
Byuuurr.. Sirup rasa stowberry menggalir deras dari rambut Nadia hingga menetes ke kemeja putihnya. Nadia nggak bisa melawan. Ia kini ada di WC perempuan. Apalagi ini jam terakhir. Nggak ada yang akan bisa menolongnya sampai bel pulang berbunyi.
“Maksud loe apa?” bentak Nadia menantang. Ia nggak diterima di guyur kayak gini.
“Belum kapok di guyur kayak gini?” balas cewek tersebut sambil menjambak rambut Nadia. “Riz, mana sirupnya yang tadi?” ucap cewek itu lagi, tangan kanannya masih menjambak rambut Nadia. Rizka langsung memberi satu gelas sirup yang sudah siap untuk disiram ke Nadia.
“Loe mau gue siram lagi?” tanya cewek itu lagi.

Halo??!! Nggak usah ditanya pun, orang bego juga tau. Mana ada orang yang secara sukarela mau berbasah ria dengan sirup rasa stroberry? Teriak Nadia dalam hati. Ia tau kalau cewek di depannya ini bernama Linda. Linda terkenal primadona sekolah karena keganasannya dalam hal melabrak orang. Yeah, dari pada ngelawan terus sekarat masuk rumah sakit, mending Nadia diem aja. Ia juga tau kalau Linda satu kelas dengan Reno. Wait, wait.. Reno??? Jangan-jangan dia biang keladinya. Awas lo Ren, sampe gue tau loe biang keroknya. Gue bakal ngamuk entar di kelas lo!
“Gue rasa, gue nggak ada masalah ama loe.” teriak Nadia sambil mendorong Linda dengan sadisnya. Nadia benar-benar nggak tahan sama perlakuan mereka. Bodo amat gue masuk rumah sakit. Yang jelas ni nenek lampir perlu di kasih pelajaran.

Kedua teman Linda, Rizka dan Ayu dengan sigap mencoba menahan Nadia. Tapi Nadia malah memberontak. “Buruan Lin, ntar kita ketahuan.” kata Ayu si cewek sawo mateng.
Selang beberapa detik, Linda kembali mengguyur Nadia dengan sirup.
“Jauhin Reno. Gue tau loe berdua temenan dari SMP! Dulu lo pernah nolak Reno. Tapi kenapa loe sekarang nggak mau ngelepas Reno?!!”
“Maksud loe?” ledek Nadia sinis.
“Gue nggak kenal kalian semua. Asal lo tau gue nggak ada apa-apa ama Reno. Lo nggak liat kerjaan gue ama tuh cowok sinting cuma berantem?”
Plaakk.. Tamparan mulus mendarat di pipi Nadia.
“Tapi lo seneng kan?” teriak Linda tepat disebelah kuping Nadia. Kesabaran Nadia akhirnya sampai di level terbawah.

Buuugg! Tonjokan Nadia mengenai tepat di hidung Linda. Linda yang marah makin meledak. Perang dunia pun tak terelakan. Tiga banding satu. Jelas Nadia kalah. Tak perlu lama, Nadia sudah jatuh terduduk lemas. Rambutnya sudah basah dan sakit karena dijambak, pjpinya sakit kena tamparan. Kepalanya terasa pening.
“Beraninya cuma keroyokan!” bentak seorang cowok dengan tegas. Serempak trio geng labrak menoleh untuk melihat orang itu, Nadia juga ingin, tapi tertutup oleh Linda. Dari suaranya Nadia sudah tau. Tapi ia nggak tau benar apa salah.

“Pergi loe semua. Sebelum gue laporin.” ujar cowok itu singkat. Samar-samar Nadia melihat geng labrak pergi dengan buru-buru. Lalu cowok tadi menghampiri Nadia dan membantunya untuk berdiri.
“Loe nggak apa-apa kan, Nad?” sesal Reno.
“Nggak apa-apa dari hongkong!?”
***
Hujan rintik-rintik membasahi bumi. Nadia dan Reno berada di ruang UKS. Nadia membaringkan diri tempat tidur yang tersedia di UKS. Reno memegangi sapu tangan dingin yang diletakkan di sekitar pipi Nadia. Nadia lemas luar biasa. Kalau dia masih punya tenaga, dia nggak bakalan mau tangan Nadia nyentuh pipinya sendiri. Tapi karena terpaksa. Mau gimana lagi.
“Ntar loe pulang gimana?” tanya Reno polos.
“Nggak gimana-mana. Pulang ya pulang.” jawab Nadia jutek. Rasanya Nadia makin benci sama yang namanya Reno. Gara-gara Reno dirinya dilabrak hidup-hidup. Tapi kalau Reno enggak datang. Mungkin dia bakal pingsan duluan sebelum ditemukan.
“Tadi itu cewek loe ya?” ucap Nadia dengan wajah jengkel.
“Nggak.” ucap Reno datar.


“Terus kok dia malah ngelabrak gue? Nyuruh jauhin loe segala. Emang dia siapa?” gerutu Nadia kesal seribu kesal. Ups! Kok gue ngomong kayak gue enggak mau jauh-jauh sama Reno. Aduuuhh…
Reno sejenak tersenyum.
“Dia tuh cewek yang gue tolak. Jadi dia tau semuanya tentang gue dan termasuk tentang lo” ucap Reno sambil menunjuk Nadia.
Nadia terdiam. Dia nggak tau harus ngapain setelah Reno menunjuknya. Padahal cuma nunjuk. “Nanti bisa pulang sendiri kan?” tanya Reno.
“Bisalah. Emang loe mau nganter gue pulang?”
“Emang loe kira gue udah lupa sama rumah loe? Jangan kira lo nolak gue terus gue depresi terus lupain segala sesuatu tentang diri loe. Gue masih paham benar tentang diri loe. Malah perasaan gue masih sama kayak dulu.” jelas Reno sejelas-selasnya. Reno pikir sekarang udah saatnya ngungkapin unek-uneknya.
“Loe ngomong kayak gitu lagi, gue tonjok jidat loe!” ancam Nadia. Nih orang emang sinting. Gue baru kena musibah yang bikin kepala pusing, malah di kasih obrolan yang makin pusing.
“Perasaan gue masih kayak dulu, belum berubah sedikit pun. Asal loe tau, gue selalu cari gara-gara ama loe itu ada maksudnya. Gue nggak pengen kita musuhan, diem-dieman, atau apalah. Pas loe nolak gue, gue nggak terima. Tapi seiring berjalannya waktu, kita dapet sekolah yang sama. Gue coba buat nerima. Tapi nggak tau kenapa loe malah diemin gue. Akhirnya gue kesel, dan tanpa sadar gue malah ngajakin loe berantem.” Sejenak Reno menanrik nafas.

“Loe mau nggak jadi pacar gue? Apapun jawabannya gue terima.”
Hening sejenak diantara mereka berdua.
“Kayaknya gue pulang duluan deh.” Ucap Nadia sambil buru-buru mengambil tasnya. Inilah kebiasaan Nadia, selalu mengelak selalu menghindar pada realita. Ia bener-bener nggak tau harus ngapain. Dulu ia nolak Reno karena Nesya juga suka Reno. Tapi sekarang?
“Besok gue udah nggak sekolah disini. Gue pindah sekolah.” Rno berbicara tepat saat Nadia sudah berada di ambang pintu UKS.
Nadia terdiam tak sanggup berkata-kata. Di langkahkan kakinya pergi meninggalkan UKS. Meninggalkan Reno yang termenung sendiri.
***
Kelas masih sepi. Hanya ada beberapa murid yang baru datang. Diliriknya bangku sebelah. Nesya belum datang. Nadia sendiri tumben datang pagi. Biasanya ia datang 5 menit sebelum bel, disaat kelas sudah padat akan penduduk. Semalam Nadia nggak bisa tidur. Entah kenapa bayangan Reno selalu terbesit di benaknya. Apa benar Reno pindah sekolah? Kenapa harus pindah? Peduli amat Reno mau pindah apa nggak, batin Nadia. “Argggg… Kenapa sih gue mikir dia terus?”
“Mikirin Reno maksud loe?” ucap Nesya tiba-tiba udah ada disamping Nadia.
“Nih hadiah dari pangeran loe.” Di lihatnya Nesya mengeluarkan kotak biru berukuran sedang. Karena penasaran dengan cepat Nadia membuka kotak tersebut. Isinya bingkai foto bermotif rainbow dengan foto Nadia dan Reno saat mengikuti MOS SMP didalamnya. Terdapat sebuah kertas. Dengan segera dibacanya surat tersebut.

Dear Nadia,
Inget ga pertama kali kita kenalan? Pas itu loe nangis gara-gara di hukum sama kakak kelas. Dalam hati gue ketawa, kok ada sih cewek cengeng kayak gini? Hehe.. just kidding J. Loe dulu pernah bilang pengen liat pelangi tapi ga pernah kesampaian. Semoga loe seneng sama pelangi yang ada di bingkai foto. Mungkin gue ga bisa nunjukin pelangi saat ini coz gue harus ikut ortu yang pindah tugas. Tapi suatu hari nanti gue bakal nunjukin ke loe gimana indahnya pelangi. Tunggu gue dua tahun lagi. Saat waktu itu tiba, ga ada alasan buat loe ga mau jadi pacar gue. I Love You…
                                                                                                                          Salam Sayang,

                                                                                                                       Reno Purwanto


“Kenapa loe nggak mau nerima dia? Gue tau loe suka Reno tapi lo nggak mau nyakitin gue.” sejenak Nesya tersenyum.
“Percaya deh, sekarang gue udah nggak ada rasa sama Reno. Dia cuma temen kecil gue dan nggak akan lebih.” Ujar Nesya menyakinkan Nadia.
“Thanks Sya. Loe emang sahabat terbaik gue.” ucap Nadia tulus.
“Tapi gue tetap pada prinsip gue.” Ucap Nadia yakin.
Nesya terlihat menerawang.

“Jujur, waktu gue tau Reno suka sama loe dan cuma nganggep gue sebagai temen kecilnya. Gue pengen teriak sama semua orang, kenapa dunia enggak adil sama gue. Tapi seiring berjalannya waktu gue sadar kalo nggak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik untuk kita.” senyum kembali menghiasi wajah mungilnya.
“Dan lo harus janji sama gue kalo loe bakal jujur tentang persaan lo sama Reno. Janji?” lanjut Nesya sambil mengangkat jari kelingkingnya.

Ingin rasanya Nadia menolak tetapi Nesya terlalu baik baginya. Dia sendiri tau sampai saat ini Nesya belum sepenuhnya melupakan Reno. Tapi Nadia juga tak ingin mengecewakan Nesya. Berlahan diangkatnya jari kelingkingnya.
“Janji..” gumam Nadia lirih.
Bagaimana, Romanatis bukan novel cinta yang berjudul berawal dari benci ini? semoga bermanfaat dan bisa untuk mengisi waktu luan dengan positif

Sandiwara Cinta

Sandiwara Cinta

Judul Cerpen Sandiwara Cinta
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Inspiratif, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 27 October 2012
“Sudahlah, bunuh saja aku sekarang, daripada aku harus membunuh diriku sendiri dan aku berdosa. Sudah bunuh saja aku, aku tak lagi berarti dalam hidupmu!” pekik Anne membahana.
“Jangan sampai tanganku terkotori darahmu. Aku tak ingin sampai kamu harus mati di tanganku, sadarkah kamu, sampai sekarang aku tetap mencintaimu, dirimu tetap di hatiku meski kita tak lagi bersama!!.” Balas Randi dengan suara menggelegar.
“Tapi, aku tak lagi ingin lebih lama menderita hidup dengan dia, lebih – lebih tanpamu.”
“Tak usah kau hiraukan aku, kalau kau mau pergi silahkan pergi saja. Aku tak mengapa.”
“Coba pahami aku!! akupun sama, tak ingin semua ini terjadi.”
“Sudahlah, kita terima takdir ini! aku akan pergi.”
Keduanya menjauh, akhir yang tragis, cinta mereka tak bersatu. Namun walau begitu tepuk tangan penonton membahana dan riuh, Aku puas dengan akting mereka berdua, mereka aktor dan aktris yang aku pilih sendiri, aku cari sendiri. Aku latih sendiri. Aku ajari mereka bagaimana akting natural, meski aku lihat akting mereka masih jauh dari kata natural, tapi aku kagum dengan kecepatan mereka menghapalkan dialog yang bahasanya bukan bahasa mereka gunakan sehari – hari.
Kenalkan namaku Fikri, aku adalah seorang mahasiswa semester akhir yang masih enggan mengakhiri masa studiku dan lebih asik mengajarkan ilmu yang aku pelajari secara otodidak ini. aku sangat menyukai dunia akting, dunia seni peran, dunia sandiwara. Di dunia itu aku juga mempelajari banyak hal lain seperti tata lampu, tata suara, tata musik, penulisan skenario, dan lain – lain.
Aku seperti seseorang yang sengaja menghindari dunia nyataku, aku seperti lari dari kenyataan hidupku. Aku seperti kehilangan dunia nyataku sehingga harus berlarian mencari dunia lain yang bisa aku buat bersandar. Dunia ini adalah panggung sandiwara, makanya aku sama sekali tak merasa berlari ke dunia lain, aku tetap pada duniaku, dunia yang lebih sandiwara.
“Mas Fik, gimana aktingku?” tanya Anne mengagetkanku.
“Baik.” Jawabku pelan.
“Lempeng banget responnya, kesel deh.”
“Terus mas harus bilang apa? wow gitu?”
Dia tergelak, manis. Aku tak ingin menatapnya lekat, karena dengan menatapnya berarti aku harus mengingat dia lagi, kakak kandungnya yang telah tiada. Kakak kandungnya yang harusnya kini mungkin sudah sama – sama mencari pekerjaan di bank atau kantor – kantor keuangan dengan dia, karena kita janji akan lulus bareng. Tapi?
“Aku nggak suka ama aktingnya Randi, datar banget.” Ucapnya sambil memanyunkan bibirnya.
“Kenapa bilang gitu?”
“Masak mas nggak bisa lihat, sih? Dari tadi itu matanya dia nggak ke aku, entah kemana.”
“Tapi aku salut sama kalian berdua yang sudah bisa membuat pementasan kali ini sangat seru dan semarak, terima kasih ya.”
“Mas Fikri ingat Mbak Nani ya?”
Aku mengangguk pelan, dia seperti merasakan apa yang aku rasakan. Dia terpekur, airmatanya menggantung di pelupuk matanya. Aku tahu kita semua kehilangan Nani, kenapa semua harus terjadi. Kenapa?
“Mbak Nani mungkin sudah bahagia di alam sana. tapi Mbak Nani juga bakalan sedih lihat Mas Fikri terus – terusan lari dari masalah gini? Ayo, mas. coba sedikit sadar! Dunia tak selebar daun kelor. Kamu harus berani menghadapi kenyataan kalau mbak Nani meninggal dan nggak akan balik lagi.”
“Tapi aku merasakan Nani masih setia menemaniku.”
“Cinta mbak Nani buat Mas Fikri itu palsu, dia nggak cinta sama kakak. Kenapa kakak nggak bisa ngelupain dia?”
“Aku terlalu cinta pada dia.”
“Susah ngomong sama mas Fikri ini!” bentaknya seraya pergi meninggalkanku.
“Di saat lelah gini emang paling enak ya bersandar di bahumu, Fik.”
“Nani, kamu harus tahu, kita nggak bisa terus – terusan begini. Kamu bukan pacarku.”
“So why?”
“Kamu nggak mikirin perasaanku, perasaan Toni juga? Kita sahabatan, Nan. Aku nggak ingin buat hatinya kecewa karena kedekatan kita.”
“Kan dia lebih beruntung dari kamu, lagian aku juga sejenak doang bersandar di bahumu.”
“Kamu juga nyakitin aku, Nan. Kamu seperti ngasih aku harapan palsu.”
“Kenapa kamu masih ragu tentang cintaku sih?”
“Jelas, kamu tak pernah menunjukkan niat baik dan sepertinya ingin membuat masalah antara aku dan Fathoni.”
“Kita harusnya menikmati momen ini tanpa harus menyebut namanya. Kamu harusnya banyak – banyak doa saja semoga cinta kita bisa kekal abadi, kita bisa bersatu walau kita tak ada ikatan.”
“Sampai kapan? Kau bagi cintaku dan cintanya?”
“Aku tak tahu, Fikri. Mungkin sampai aku mati.”
“Toni! Ton! Dengerin dulu! semua ini nggak seperti yang kamu lihat, diantara kita. . . .” Toni menonjokku keras, aku terpelanting jauh. aku tak lagi dapat melihat apa yang diperbincangkannya dengan Nani, hanya sayup – sayup terdengar.
“Kenapa kalian tega menghianati gue? Apa salah gue sama kalian? Selama ini kalian ternyata menipu gue? Jelas gue nggak bisa terima yang kayak gini! Gue doain siapapun diantara kalian bakalan kualat sama gue, karena udah nipu gue, nusuk gue dari belakang!” hardik Fathoni beberapa waktu lalu.
Kata – kata itu masih menari – nari di ingatanku. Hingga hari ini aku tak habis pikir, kita kena tulah dari perbuatan terlarang itu. aku harus kehilangan semangat buat hidup sedangkan Nani kehilangan hidup. Cinta terlarang yang kita sebar benihnya harus layu sebelum akhirnya mekar. Hati ini perih terasa, kehilangan sahabat kehilangan cinta.
Seharusnya aku tak tergoda dengan rayuan Nani. Harusnya aku menjaga keutuhan persahabatan diatas segala – galanya. Harusnya, tapi kini nasi sudah menjadi bubur bahkan menjadi aking. Tak lagi ada yang dapat diperbaiki. Fathoni sudah jauh lebih sukses dan beruntung dibandingkan aku, dia juga kabarnya sudah bertunangan dengan pemenang kontes kecantikan tahun lalu yang tak lain adalah putri pemilik sebuah bank nasional yang cantik dan cerdasnya tak perlu diragukan lagi?
Aku bandingkan dengan hidupku? Jauh. dapat kerja yang pas saja belum. Apalagi dapat pacar baru yang luar dalam sempurna seperti yang didapatkan Fathoni? aku menyesali perbuatanku itu. perbuatan yang salah dan terkutuk itu.
“Mas Fikri, siapa yang pantas aku pilih. Persahabatanku atau cintaku.” Tegur Anne.
“Sahabat.” Jawabku pasti.
“Why?”
“Nggak ada alasan. Jangan sampai kamu melukai sahabatmu, meski cinta terlihat lebih menguatkanmu.”
“Aku tahu bagaimana perasaannya, tapi aku tahu juga, kalau Lina amat sangat mencintainya.”
“Siapa? Randi?”
Dia mengangguk. Wajahnya mendadak masam.
“Kamu cinta sama dia?”
“Gimana ya?”
“Kalau kamu cinta, bandingkan lebih kuat mana cinta Randi, padamu atau pada Lina.”
Aku menatap erat wajah Anne. Sangat mirip dengan Nani, senyumnya, barisan gigi rapatnya, dan juga sepasang mata bola yang membuat setiap lelaki memimpikan mata itu, mata itu teduh dan laksana bidadari.
“Randi terlalu susah ditebak. Bikin galau aja.”
“Nggak usah main hati deh, biasa aja.”
“Tapi hatiku kian nggak bergetar kalau di dekatnya. Justru . . . .”
“Justru kenapa?”
Dia menggeleng. Sepertinya ada sesuatu yang menyerang otaknya sehingga dia mengurungkan ucapannya dan memilih untuk berlari meninggalkanku seorang diri. Aku lihat dari jauh mukanya memerah.
Setengah mati aku merasakan penyesalan yang mendalam, setelah itu aku seperti jera. Tak lagi ingin bersahabat, tak lagi ingin menjalin cinta. Karena semua itu palsu. Ketika dihadapkan pada kepentingan pribadi masing – masing. Dalam kasus ini akulah pecundangnya, meski di awal terlihat akulah pemenangnya. Oh!
Sungguh mati, aku tak lagi ingin lebih lama hidup disini. Ingin aku turut ke dunia dimana Nani kini tenang. Tapi aku masih mau buat hidup dan memperjuangkan harapanku yang belum terwujud.
“Fikri, aku mencintai kamu. Meski di saat ini kita tak mungkin bersama.”
Akupun sama, Nani. Aku mencintaimu lebih dari siapapun, aku mengharapkan kalau kita akhirnya berakhir bahagia. Tak ada kompetisi. Tak ada kalah menang. Tak ada yang disakiti atau merasa menyakiti. Harusnya.
“Pokoknya bapak nggak mau tahu! Kamu harus sudah wisuda semester depan! Bapak ini malu, nak. Tiap hari ditanyain tetangga – tetangga soal nasib kuliah kamu.!”
“Bapak ngerti nggak sih, aku lagi galau.”
“Galau itu sehari dua hari, lagian ngapain sih kamu pakai ikutan kayak gitu? Kamu itu lelaki, patah satu tumbuh seribu. Malah bisa tumbuh sepuluh ribu. Perasaan bapak dulu mudanya juga nggak gitu – gitu amat.”
“Nggak semudah itu, Pak. Aku udah membunuh persahabatanku sendiri, aku juga udah bikin semuanya makin runyam dengan kematian . . .”
“Semua udah terjadi kan? Emangnya kamu bisa bikin semuanya kembali balik lagi? Lihat, ibu kamu udah sakit – sakitan terus. Dia nggak ingin apa – apa. dia ingin lihat kamu segera lulus kuliah, gitu aja!” ujar bapakku sambil memegang – megang jenggotnya.
“Sekarang aku harus gimana?”
“Kamu harus minta maaf sama Fathoni. dimanapun dia sekarang, temui dia!”
Aku terngaga, darimana bapak yang biasanya cuek dengan hidupku bisa tahu aku ada masalah besar dengan Fathoni. akupun akhirnya seperti mendapatkan ilham, Cuma dengan cara itu semua akan menjadi baik.
“Ayo kita taruhan, apa Fathoni bakalan maafin Fikri?”
“Nggak mungkin, lah. Jelas – jelas kesalahan Fikri udah parah banget, ngerebut pacar Fathoni, nusuk Fathoni dari belakang, huh!”
“Sahabat macam apa kayak gitu?”
“Tega ya.”
“Aku pegang, yang lain. Thoni bakalan maafin Fikri, aku yakin di hatinya masih ada hati nurani, ini kisah nyata. Bukan sandiwara. Dalam salah masih ada maaf.”
“Sok banget kamu.”
Sayup – sayup aku dengarkan suara kegusaran mereka. dulu aku juga tertantang oleh tawaran taruhan mereka yang hadiahnya sangat menggiurkan. Tapi? tapi kalau akhirnya begini lebih baik dari awal aku tak menghiraukan mereka. masak sahabatnya sendiri jadi taruhan? Dan aku, aku lebih tega lagi. Sahabat sendiri dihianati. Meski awalnya tak ada maksud.
“Gimana nih pementasan kita selanjutnya? Masih masang aku sama Randi, kan?”
“Nggak.”
“Ayolah, please.”
“Yang mana namanya Lina?”
“Mas Fikri belum tahu? Lina meninggal dunia, mas. dia overdosis setelah tahu kalau Randi nggak suka sama dia.”
Aku makin terbelalak. Ini sandiwara apa nyata? Ini nggak mungkin. Ada apa sebenarnya?
“Kasihan ya dia?”
“Lebih kasihan lagi aku, ternyata dia selama ini udah menjalin hubungan dengan Yoan, mantanku. Mereka berhubungan sejak aku masih jadi pacar Yoan. Aku nggak nyangka aja. Ternyata hidup hanya soal menipu dan ditipu, menusuk atau ditusuk. Aku sedih. Aku nggak bisa berpikir.”
“Darimana kamu tahu?”
“Kemarin Yoan meminta maaf sama aku dan memintakan maaf almarhumah Lina.”
“Sekarang kamu sedih atau bahagia.”
“Jelas aku sedih. Aku nggak bisa mikir lagi. Aku emang udah nggak ada lagi ikatan ama Yoan, dan rasa cintaku juga udah nggak ada, tapi yang aku sesalkan kenapa justru yang menyakitiku adalah sahabat dan pacarku sendiri.”
“Pacar?”
“Kan dulu statusnya pacarku.”
“Kalau Yoan minta maaf ama kamu dan minta balikan ama kamu, kira – kira kamu kasih kesempatan kedua nggak?”
“Maaf oke, balikan nggak.”
Anne menunjukkanku kira – kira apa yang akan aku hadapi jika melakukan hal yang sama dengan Fathoni.
“Semoga kamu mau maafin kesalahanku, Thoni.” Ujarku sambil berlutut pada Fathoni.
“Udah nggak ada yang perlu dimaafin, bahagialah kalian berdua, dengan Nani. Aku ikhlas.” Jawabnya sambil mengangkat pundakku.
“Kamu nggak dendam ama kita?”
Dia menggeleng, dia merangkulku. Tak terasa airmataku jatuh. Aku tak percaya aku dapat menangis di pelukannya saat ini, dan anehnya aku rasakan Fathoni juga meneteskan airmata. Aku rasakan tunangan Fathoni masuk ke dalam ruangan ini. wajahnya menyiratkan kekagetan.
“Mungkin gue juga salah. Gue asal nuduh aja. Sejak itu gue nggak bisa memaafkan diri gue sendiri yang udah berkata – kata kasar ama kalian berdua. maafin gue juga, Fikri. Eh, kenalin ini tunangan gue. Dulu mantan gue sih, kita CLBK. Namanya Afif. Cantik nggak?”
“Lho, ganti lagi? Bukan yang mantan putri itu?”
“Yang mantan putri itu lebih fokus ama kariernya. Aku lebih milih dia, yang ini lebih asli cintanya. Nggak terlihat palsu.” Jelas Fathoni dengan bangga.
Aku lihat dia tersenyum, terlihat cantik dan makin sedap dengan tailalat atau andeng – andeng di bawah bibirnya.
Aku masih tak percaya, ternyata bapakku tahu lagi info perdamaianku dengan Fathoni. aku tak menyangka bapakku kini memutuskan semua urusan pekerjaanku jadi guru teater di sekolah Anne. Dan aktivitas – aktivitasku yang dirasa bapakku nggak penting. Sedangkan kini ibuku yang sudah sehat, kembali rajin menjadi pengkhotbah ulung seperti ustadz di mesjid – mesjid. Dan aku harus menebalkan kupingku lagi.
Dengan tidak lagi menjadi guru teater di sekolah Anne ekspektasi orangtuaku adalah anaknya bakalan rajin belajar dan tidak mengulur – ulur waktu mengurus skripsi. Tapi yang terjadi kini adalah, aku malah dapat tawaran yang lebih menggiurkan dan lebih menantang. Menggarap script film yang diadaptasi dari sebuah novel karangan seorang pengarang hebat bernama Nissi Fapriyadi yang berjudul Sahabatku Sampai Hati. aku sangat senang sekali dengan tawaran pekerjaan berskala besar ini. ini harus aku manfaatkan dengan sebaik – baiknya agar kelak ada tawaran lain lagi yang lebih besar.
“Gimana? Udah sampai mana?” tanyanya sambil mengangkat cangkir berisi kopi capuccino-nya.
“Udah sampai draft dua sih. Saat muncul benih – benih cinta antara Rima dan Ricky.”
“Wow! Cepat sekali kerja kamu, Fikri?”
“Agak sedikit curcol juga sih?”
Dia meringis. Aku lihat senyum itu menghakimiku sebagai tokoh yang bersalah. Sepertinya dia merasa senang dengan kecepatan kerjaku, meski aku juga belum tahu apa dia bakalan suka dengan hasilnya.
“Kira – kira kamu mau nggak jadi salah satu pemain di film itu? itung – itung nambah pemasukan kamu dan pak produser hemat biaya casting.”
Aku menggeleng pelan. Cukup di kisah nyataku aku melakukan pengkhianatan terhadap sehabatku sendiri, tak lagi kuulangi di dunia sandiwara. Aku lihat mukanya mendengus kesal karena penolakanku.
“Kamu pantas jadi Ricky, mengapa nggak?”
“Misalnya aku jadi Ricky, yang jadi Rima siapa?”
“Kalau sejak masa penulisan dulu sih, bayangan Rima ya sahabatku. Sahabatku yang nasibnya juga mirip Rima. Harus jadi gila, cuman dia akhirnya mati gitu aja. Kasihan, tapi emang cinta kadang hanya bisa menyakiti dan membuat pedih di hati aja.”
Aku diam saja, aku diam bukan tak tahu siapa yang dimaksudkan oleh Nissi. Dia adalah sahabat Nani. Maka jelas dia sampai menuliskan kisah Nani, aku, dan Fathoni. dalam sebuah novel yang menarik sehingga produser ikutan tertarik dan berniat menjadikan sebuah film.
“Udahlah, Nis. Nggak usah dibahas lagi, aku udah coba untuk melupakan semua itu.”
“Aku paham, ini semua nggak mudah buat kamu jalani. Apalagi kamu yang harus bertahan disini. Aku tahu, kamu mencintai dia meski akhirnya harus. . . .”
“Udahlah, ayo kita bahas proyek ini aja. Nggak usah bahas yang lain.”
Terbayang di benakku, adalah wajah kedua orangtuaku yang marah berat pada aku yang mengulur – ulur kelulusanku. Tapi aku makin mencoba mempertebal kupingku dengan keyakinanku bakalan jadi penulis yang sukses, terutama untuk proyek ini. proyek skenario pertamaku yang berskala besar ini. terbayang juga wajah Nani, aku coba menepiskannya, namun aku tak mampu, sungguh aku tak mampu. Dia terlalu kuat melekat. Lalu, bayangan Fathoni yang hidupnya akhirnya bisa bahagia dengan tunangannya yang bernama Afif itu.
“Walau aku harus kehilangan kamu sebagai guruku, aku nggak mau kehilangan kamu sebagai cintaku, mas Fikri. Aku mencintai kamu, maukah kamu menjadi pacarku? Maukah kamu mencintai aku yang sebenarnya telah lama menaruh rasa sama kamu?”
“Kamu yakin kamu setia?”
“Aku tahu resikonya jika aku menanggalkan setiaku. Aku akan mati dan dia akan pedih. Aku akan bernasib sama seperti Rima, Nani, dan semua penghianat cinta di dunia ini.”
“Ciyuss ? Kamu siap?”
Dia mengangguk pelan. Hatinya seperti sedang kembang kempis tingkat atas.
“Ciyus, demi apapun.”
“Janji?”
“Janji, sekarang dan selamanya. Mau ya jadi pacarku, mas?”
Aku mengangguk. Aku tak lagi merasakan ada hambatan yang menganga menghantui kisah kita. tapi aku tak tahu lagi sih? Siapa yang tahu ada hati lain yang sedih dan kecewa karena akhirnya aku menautkan hatiku pada adiknya Nani ini.
Aku merasakan degup jantungnya yang kini memelan. Aku rasakan pelukannya juga, hangat dan menyenangkan. Selalu saja mengingatkanku pada kakaknya, namun aku harus menghapusnya, walau sekali – kali tak bisa.
“Ini nyata, kan? Bukan sandiwara? Atau bahkan mimpi?”
Aku tersenyum padanya. Mungkin inilah takdir yang harus aku jalani, dengan dia, aku harap selamanya, dan bukan untuk sesaat.
Tamat

Cerita Sandiwara Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.
"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"